karena saya suka lupa, maka saya putuskan akan menulis semua yang saya alami hingga kelak bisa lagi untuk kubaca dan mengingat semuanya. ini kisah yang kemarin terjadi kala saya dan teman-teman masih bersama. kemarin ga tahu ekspresinya harus gimana, tapi saya yakin beberapa tahun lagi ini akan menjadi sebuah kisah lucu yang akan kami bicarakan bersama ketika kumpul bareng, dan beginilah kronologisnya......
Saat ini sore menjelang di Selasa dengan gerimis yang menyapa, seperti biasa kami mahasiswa yang teramat mencintai kampusnya, berjam-jam duduk cuma buat cerita ngawur, derai tawa sambut menyambut menciptakan harmoni tersendiri dalam ruangan sekre kami yang serba ada, mulai dari pemasak nasi, pemanas air, gelas, gula, sendok, kopi, piring, bungkus nasi, dan anehnya meski ini ruangan mahasiswa ga ada satu buku yang berhubungan dengan perkuliahan di sini, saya pun bertanya-tanya, ini ruangan sekre mahasiswa atau rumah kos kedua. Lupakan saja tentang apa nama yang pantas untuk sekre ini, yang terpenting di sini adalah apa cerita yang terjadi dalam sekre ini. Ketika jarum jam merangkak bergerak menuju pukul enam sore, dan gerimis di luar pun mulai reda, kami memutuskan untuk pulang. Lebih tepatnya bukan pulang, tapi mencari makan dan memulai serangkaian kisah selanjutnya......
Oh ya, saya lupa bilang nama tokoh yang akan membuat cerita ini. Ada delapan tokoh di tempat yang sama, satu pemeran lagi akan hadir di klimaks cerita nantinya (alias nyusul). Sebut saja namanya kak yen, un, nam, komting, nenek, turnip, wiwit, dan saya sendiri. Mungkin nama karakter pemainnya agak aneh, begitulah, ini salah satu proyek paling kratif kami sebagai mahasiswa. Karena kelaparan, kami memutuskan untuk makan dulu sebelum pulang ke rumah masing-masing. Dan senja ini, kami putuskan pecel ayam adalah pilihannya.
Pecel ayamnya biasa, sama dengan di tempat kalian yang mungkin membaca tulisan ini, yang ga biasanya adalah cerita dari lesehan dengan meja persegi panjang ini. Pernah ga bayangin kalau sebelum makan, orang harus salaman dulu sama nasi. Mungkin ini ritual aneh yang pernah kalian dengar, tapi itu kak yen yang salaman dengan nasi sebelum makan. Belum lagi menunya yang dia pesan berbeda dengan kami kebanyakan, kami pesannya ayam semua (komting pesan pangsit sih, tapi kan tetap ada ayamnya), eh kak yen pesan pecel belut yang nunggunya benar-benar nguji kesabaran karena perut kak yen udah ga sabaran untuk makan (kali aja penjual pecelnya masih mancing belut di sawah), saking ga sabaran nunggu kak yen numpahin air di lantai, dan jadilah kak yen si 'iyem' tukang lap sebelum makan, hahaha.....
Udah biasa kan liat orang grogian kalau diledekin masalah cinta-cintaan, apalagi dua-duanya duduk dekatan, yang belum pernah lo liat pasti jantungnya loncat ke luar, terus lompat-lompat di antara kami yang makan sambil bilang 'halo, saya jantung nenek yang mencari jantung kokom, ini serbet buat yang membutuhkan'. Ini bukan khayalan, karena kami bisa membuat cerita yang begitu hidup dan nyata. Coba bayangkan ada teman kita yang makan dengan lahapnya, ketawa-ketiwi saking gembiranya, terus ketika mau bayar baru sadar kalau dompetnya ga ada. Dan itu dompet ga jelas tinggal di mana. Hasilnya, so pasti kami balik lagi ke kampus malam-malam buat nyari dompet turnip yang ketinggalan. Belum lagi sampai kampus, motor komting habis minyak pula di perjalanan, kalau ini jalan raya mah gampang, mungkin lo bisa jalan dikit dan ketemu penjual minyak eceran. Lah, ini mah di kampus, udah malam dan kami belum salat. Dompet turnip belum ditemukan, motornya nambah masalah pula dengan habis bensin.
Hampir lupa sama tokoh yang akan muncul di klimaks pencarian dompet turnip. Papi, yang kami tinggal di kampus ketika tadi pulang. Papi lah 'the hero' turnip yang wajahnya udah berlipat-lipat karena cemas dompetnya hilang. Setelah ngecek sana-sini, hasilnya nihil, dompet turnip ga ditemukan. Saat cerita ini terjadi, ga ada yang tertawa, ga ada canda, ceria tenggelam dalam wajah sedih turnip yang biasanya ceria. Tapi, saat cerita ini di baca, coba bayangin lagi serangkaian cerita yang terjadi kala itu dan kita pasti terbahak bersama, hahahaha......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar