Sabtu, 14 Desember 2013

Cobalah Untuk Berhenti Menyalahkan Orang Lain

Ibuku bukan sastrawati yang pandai merangkai kata menjadi alunan puisi, ibuku hanya seorang wanita yang selalu ingat untuk menasihati anak-anaknya, meski kami tinggal di kota yang berbeda-beda. Jauh bukan lah alasan bagi ibuku untuk mendengar keluh-kesah kami, dan tak henti-hentinya ibu selalu mengajarkan kami untuk rendah diri. Lebih tepatnya kami memanggil ibu dengan 'mak', panggilan yang sangat sederhana. Namun, panggilan ini tidak mengurangi betapa cerdasnya ibuku meski secara akademis aku jauh lebih pintar dibandingkan ibu. Meski kami tinggal di sebuah desa yang mungkin tak kan pernah bisa kau jumpai di peta, ibuku memiliki pikiran yang sangat maju, bukan berarti ibuku seperti 'ibu gaul' yang ada di kota-kota. Dari ribuan kata yang pernah diucapkannya, malam ini aku ingin mengingat bagaimana ibuku mengatakan 'Cobalah Untuk Berhenti Menyalahkan Orang Lain, Nak'
Aku seorang mahasiswi fisika yang hampir menyelesaikan semester 7. Beberapa hari lagi, semester ini akan berakhir dengan selesainya ujian akhir semester (UAS). Seperti biasa, aku akan pulang kampung setelah menyelesaikan semua ujian. Bagiku, pulang kampung memiliki cerita tersendiri, karena aku hanya bisa pulang pada waktu liburan panjang. Setelah daftar ujian keluar, ternyata aku sangat beruntung, jadwal ujian sesuai dengan yang aku harapkan. Jadi, aku bisa pulang beberapa minggu diakhir tahun ini.
Beberapa hari kemudian, kenyataan tak seperti yang aku harapkan. Hanya karena satu jadwal ujian yang digeser, semua rencana yang kususun hancur. Aku merasa sangat kesal, dan mulailah aku menyalahkan semua pihak terkait yang menyebabkan pergeseran jadwal ujian. Seperti biasa, aku akan bercerita setiap hal pada ibu, sesederhana apa pun itu. Aku menggugat itu semua kesalahan dosen yang suka seenaknya mengubah jadwal. Terlebih lagi, aku memang tidak suka dengan sistem dosen yang suka seenaknya masuk selama setengah semester ini. Maka, emosi tak tertahan lagi. Karena tidak mungkin aku marah secara langsung pada sang dosen, aku melampiaskan kemarahanku lewat kata-kata 'semoga' yang diikuti dengan harapan yang sangat buruk terjadi pada sang dosen.
Awalnya, ibuku hanya diam mendengarkan tanpa protes. Aku pikir, ibuku akan membenarkan karena memang dosennya yang keterlaluan. Namun, aku terdiam ketika ibuku bilang 'Cobalah untuk berhenti menyalahkan orang lain, nak. Apakah kamu begitu mengenal sang dosen hingga kamu bisa menilainya seperti itu?'
Karena tidak mau disalahkan, aku menjawab 'Coba Ibu bayangkan, dia yang memindahkan jadwal kuliah dan ujian sesuka hatinya, bukan hanya aku, dia menganiaya banyak mahasiswa, teman-temanku juga merasakan hal yang sama'
'Coba, apa yang kamu tahu tentang urusan dan masalahnya selain menggeser jadwal sesuka hatinya'
'Mana aku tahu ibu, memang dosennya pemalas dan jarang masuk, entah apa alasannya'
'Benar, dia membuatmu sangat sakit hati karena mengacaukan semua rencanamu. Tapi, pernahkah kamu berpikir dia punya masalah yang sangat besar dibalik sifat semena-menanya seperti itu. Berhentilah untuk menyalahkannya. Bisa jadi, jika kamu tahu alasan yang sebenarnya nanti, kamu akan merasa sangat bersalah pada dirinya. Jangan salahkan orang lain atas apa yang menimpa kita. Bisa jadi itu kesalahan kita sendiri, karena kita lah yang menyebabkan diri kita untuk berhubungan dengannya. Dia tidak pernah memaksa kamu untuk mengambil kelasnya. Kamu lah yang melibatkan diri dengan sendirinya tanpa paksaan dari siapapun. Mungkin, bagi dia kamu juga penyebab masalah untuknya. Cobalah untuk menikmati segalanya, setidaknya dengan berterimakasih padanya karena dia telah memberi masalah untukmu karena dengan begitu dia membuatmu untuk belajar bijaksana'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar