Selasa, 18 Februari 2014

ARIGATOU

Lama tidak menulis, malam ini kembali aku ingin menulis setelah mendengar sebuah lagu bergenre rap dari seorang penyanyi Jepang yang tidak aku kenal. Judul lagunya aku jadikan judul tulisan malam ini 'ARIGATOU'. Sebuah lagu dengan arti yang sangat menyentuh yang kudengar tanpa sengaja. Tentang ucapan terimakasih kepada orang-orang yang selalu mendukung kita, tentang kerinduan kita pada orang-orang yang telah mendukung kita dan keadaan yang membuat kita akhirnya terpisah, tentang kita yang berbahagia bahwa mereka yang kita sayang masih hidup walau terpisah dengan kita, bahwa kita tidak pernah sendiri, kita akan selalu mendukung satu sama lain, tidak peduli berapa banyak dari kita yang datang dan pergi, bahwa kesedihan hanyalah sebagian dan kebahagian akan menjadi dua kali lebih besar, bahwa kita akan berjanji tidak akan menyerah jika kita diberi kesempatan sekali lagi, tentang memori yang telah mengisi hari-hari yang telah kita habiskan bersama kita ucapkan terimakasih untuk mereka semua, bahwa kita berjanji akan selalu peduli satu sama lain walau kita dalam keadaan terpisah, bahwa kita yang tidak akan pernah menyerah, bahwa kita akan selalu ada satu sama lain. Sungguh, sebuah lagu yang membuatku merasa sangat rindu pada keluarga dan teman-teman semuanya......
Aku menghabiskan waktu tumbuh menjadi remaja di tempat yang jauh dari keluarga. Tidak semua yang ingin aku sampaikan bisa langsung didengar oleh keluarga. Tidak semua tangis dan tawa bisa aku tumpahkan dihadapan orang tua. Karena jauhnya jarak dan sedikitnya waktu yang aku miliki untuk duduk bersama keluarga, maka aku tidak punya pilihan selain menjadikan teman sebagai tempat untuk menumpahkan segalanya, tempat meluapkan rasa kesal, tempat menumpahkan tawa, tempat bercerita hal-hal yang terkadang tidak penting. Aku tidak peduli bagaimana bosannya mereka mendengar aku bercerita, aku tidak peduli mereka benar-benar mendengar atau sekedar pura-pura, yang aku butuhkan hanya orang yang ada duduk di sampingku saat aku bercerita.
Buat aku yang tumbuh dewasa dengan kuantitas waktu bertemu keluarga tidak lebih dari tiga kali dalam satu tahun, tak ada pilihan selain menganggap teman yang aku miliki adalah keluarga. Semua hal aku ceritakan pada teman, sebelum keluargaku sempat untuk mendengar. Buatku yang telah melewati hari jauh dari keluarga, teman bukanlah sekedar teman. Bagiku, teman adalah keluarga kedua. Mereka tempat aku mengeluh, tempat aku merengek, tempat aku mengadu ketika ada masalah. Pernah suatu waktu aku bayangkan, mungkin mereka juga pernah bosan dengan semua yang aku lakukan. Mungkin mereka juga pernah kesal dengan sifat pelupaku yang teramat sering menyusahkan orang sekitar, atau keinginanku untuk menjadi mandiri namun akhirnya menjadi beban, atau aku yang terkadang mengeluh dan merengek pada waktu yang tidak tepat. Wajar saja jika mereka kesal, manusiawi jika mereka bosan, dan sewajarnya jika terkadang mereka marah.....
Aku bukan tipe orang yang mudah dekat dengan orang lain, aku bukan orang yang dengan mudah bisa bergaul dengan siapa saja, aku bukan orang yang mudah untuk melebur dalam lingkungan baru, aku bukan orang yang mudah dalam mengingat nama dan tempat, dan teman yang aku miliki juga tidak banyak, hanya beberapa, hingga aku sungguh bereterimakasih untuk mereka karena mereka sungguh teramat berharga karena tanpa mereka aku bukanlah apa-apa. Semua yang aku dapat, semua yang aku capai, dan semua yang aku lewati bukan sepenuhnya usaha sendiri, karena mereka aku sampai seperti ini. ARIGATOU.....

Selasa, 07 Januari 2014

Masih Kuingat Dengan Jelas

Masih kuingat dengan jelas tentang apa yang terjadi hari ini
Di kalender sini, katanya tanggal tujuh
Katanya juga, angka tujuh angka ajaib
Benar adanya hari ini ajaib, tapi menyakitkan
Bagaimana mungkin sesuatu dalam genggaman terbuang
Ingin ku sampaikan pada Tuhan bahwa ini terlalu menyakitkan
Bagaimana bisa akan kuterima
Apalagi untuk ku simpan dalam catatan masa depan
Bukan kah Tuhan tahu segalanya
Tentang aku yang menyukai Januari
Tapi mengapa Januari berikan luka begitu dalam
Januari bukan sekedar mematahkan kakiku untuk terus berjalan
Juga tangan yang terus ingin menggapai
Belum cukup hingga Januari menyisakan sesal untuk terus kukenang
Ku tanya penanda waktu yang tanpa ku tahu menjanjikan apa
Dalam bulir-bulir kristal yang berjatuhan di sudut mata
Putihnya seakan berkata semuanya sia-sia
Terdiam dalam malam yang mulai turun
Besama gelap memakan malam yang menyisakan ruang hitam
Pada sisa asa yang tersisa, aku bertanya
Masih adakah yang lebih kejam?
Aku tak mau menyalahkan Tuhan, karena itu namanya ingkar
Tapi sungguh aku tak tahan untuk berjalan dalam kelam
Aku menggapai, mencari pegangan
Ada beberapa tangan
Tetap saja aku belum bisa berjalan