Ada yang bilang 'masalah membuatmu lebih dewasa'. Ada yang bilang 'masalah adalah warna persahabatan'. Menurutku tidak mutlak demikian, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Tidak sedikit orang yang kehilangan teman, sahabat, relasi, bahkan keluarga sendiri hanya karena salahpaham belaka. Bila kita bisa menyikapi dengan bijak, masalah membuat kita lebih akrab, masalah membuat kita mengerti apa yang disukai atau yang tidak disukai oleh teman kita. Saat kita merasa tersakiti, benar adanya kita merasa dirugikan, merasa dikhianati, kita lupa bahwa teman atau keluarga kita selama ini sudah sangat baik terhadap kita. Amarah membakar semua pengorbanan yang pernah mereka lakukan buat kita. Namun, jika kita berani mengklarifikasi dan meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi, percayalah bahwa setelah itu amarah ini akan menjadi cerita paling lucu di antara kita. Melupakan peristiwa yang terjadi adalah mustahil, yang mungkin dilakukan adalah memaafkan dan bersyukur bahwa masalah yang terjadi tidak membuat kita kehilangan teman. Salahpaham itu alamiah, yang penting kita mau sama-sama minta maaf atas apa yang telah terjadi. Dengan begitu, percayalah bahwa kita akan memiliki hubungan yang tidak akan mudah dihancurkan oleh masalah atau bahkan kata-kata orang lain yang tidak jelas kebenarannya. Jika kita tidak mau kehilangan teman karena masalah tersakiti, konfirmasi dan bicarakan semua hal yang membuat ganjal di hati.
**Semoga kita bisa kembali 'normal' ketika berjumpa nanti, kembali sama-sama tertawa, maaf sudah 'merepotkan' banyak orang karena kata yang sebenarnya tak ada hubungannya
Minggu, 22 Desember 2013
Jumat, 20 Desember 2013
Lilin Dalam Gelas Kaca
Lilin dalam gelas kaca, mulanya biasa sebelum menyala
Kristal gelas mendingin, memancar putih bening
Samar-samar di sana, dalam kristal kaca membayang
Wajah dungu tergugu dengan butir air di sudut mata
Ragu bertanya akan salahnya
Hingga akhirnya lilin menyala
Dalam gelas kaca kosong mengusir dingin
Indah kemilau cahayanya
Kristal berpendar, atom-atom bergetar
Jatuh butir bening dari sudut mata, berkilau ditimpa cahaya
Sekejap lilin bersitatap dengan kekosongan yang jatuh dari mata gelapnya
Hatinya pun bergetar, tanpa tahu salahnya apa
Dia hanya ingin cahaya tak memecah kaca
Air mata jatuh menimpa gelas kaca
Bahkan menambah panas membara
Hingga gelas kaca tak tahan lagi menyimpan lilin dan sinarnya
Indah kemilau pendar cahaya memecah gelas kaca
Kristal gelas mendingin, memancar putih bening
Samar-samar di sana, dalam kristal kaca membayang
Wajah dungu tergugu dengan butir air di sudut mata
Ragu bertanya akan salahnya
Hingga akhirnya lilin menyala
Dalam gelas kaca kosong mengusir dingin
Indah kemilau cahayanya
Kristal berpendar, atom-atom bergetar
Jatuh butir bening dari sudut mata, berkilau ditimpa cahaya
Sekejap lilin bersitatap dengan kekosongan yang jatuh dari mata gelapnya
Hatinya pun bergetar, tanpa tahu salahnya apa
Dia hanya ingin cahaya tak memecah kaca
Air mata jatuh menimpa gelas kaca
Bahkan menambah panas membara
Hingga gelas kaca tak tahan lagi menyimpan lilin dan sinarnya
Indah kemilau pendar cahaya memecah gelas kaca
Tidak Tahu, Hanya Merasa Lelah
Ini Desember, beberapa hari lagi akan datang Januari
Awalnya, aku berpikir semua akan baik-baik saja
Ternyata aku terlalu percaya hingga akhirnya satu-satu ada yang sirna
Tanpa tahu apa sebabnya, perlahan semuanya jadi musnah
Mungkin karena kita sama-sama lelah
Pada Desember yang menjadi akhir
Haruskah kita berpisah untuk sama-sama melepas lelah
Mungkin Januari kita benar-benar sendiri
Bersama lelah yang semakin meninggi
Hingga aku tak tahan lagi
Dan memutuskan untuk pergi
Melangkah mencari jalan sendiri
Bukan niat meninggalkan
Memang jalan kita berlawanan
Tidak tahu soalnya, aku hanya merasa lelah
Dengan tawa tiada arah dan akhirnya marah
Karena tanganku hanya dua, aku tak bisa menarik semuanya
Sewajarnya bisa ada yang tak terbawa
Tidak tahu, aku hanya merasa lelah, walau sekedar untuk bercerita
Sudahlah, sebaiknya kita akhiri saja
Awalnya, aku berpikir semua akan baik-baik saja
Ternyata aku terlalu percaya hingga akhirnya satu-satu ada yang sirna
Tanpa tahu apa sebabnya, perlahan semuanya jadi musnah
Mungkin karena kita sama-sama lelah
Pada Desember yang menjadi akhir
Haruskah kita berpisah untuk sama-sama melepas lelah
Mungkin Januari kita benar-benar sendiri
Bersama lelah yang semakin meninggi
Hingga aku tak tahan lagi
Dan memutuskan untuk pergi
Melangkah mencari jalan sendiri
Bukan niat meninggalkan
Memang jalan kita berlawanan
Tidak tahu soalnya, aku hanya merasa lelah
Dengan tawa tiada arah dan akhirnya marah
Karena tanganku hanya dua, aku tak bisa menarik semuanya
Sewajarnya bisa ada yang tak terbawa
Tidak tahu, aku hanya merasa lelah, walau sekedar untuk bercerita
Sudahlah, sebaiknya kita akhiri saja
Sabtu, 14 Desember 2013
Cobalah Untuk Berhenti Menyalahkan Orang Lain
Ibuku bukan sastrawati yang pandai merangkai kata menjadi alunan puisi, ibuku hanya seorang wanita yang selalu ingat untuk menasihati anak-anaknya, meski kami tinggal di kota yang berbeda-beda. Jauh bukan lah alasan bagi ibuku untuk mendengar keluh-kesah kami, dan tak henti-hentinya ibu selalu mengajarkan kami untuk rendah diri. Lebih tepatnya kami memanggil ibu dengan 'mak', panggilan yang sangat sederhana. Namun, panggilan ini tidak mengurangi betapa cerdasnya ibuku meski secara akademis aku jauh lebih pintar dibandingkan ibu. Meski kami tinggal di sebuah desa yang mungkin tak kan pernah bisa kau jumpai di peta, ibuku memiliki pikiran yang sangat maju, bukan berarti ibuku seperti 'ibu gaul' yang ada di kota-kota. Dari ribuan kata yang pernah diucapkannya, malam ini aku ingin mengingat bagaimana ibuku mengatakan 'Cobalah Untuk Berhenti Menyalahkan Orang Lain, Nak'
Aku seorang mahasiswi fisika yang hampir menyelesaikan semester 7. Beberapa hari lagi, semester ini akan berakhir dengan selesainya ujian akhir semester (UAS). Seperti biasa, aku akan pulang kampung setelah menyelesaikan semua ujian. Bagiku, pulang kampung memiliki cerita tersendiri, karena aku hanya bisa pulang pada waktu liburan panjang. Setelah daftar ujian keluar, ternyata aku sangat beruntung, jadwal ujian sesuai dengan yang aku harapkan. Jadi, aku bisa pulang beberapa minggu diakhir tahun ini.
Beberapa hari kemudian, kenyataan tak seperti yang aku harapkan. Hanya karena satu jadwal ujian yang digeser, semua rencana yang kususun hancur. Aku merasa sangat kesal, dan mulailah aku menyalahkan semua pihak terkait yang menyebabkan pergeseran jadwal ujian. Seperti biasa, aku akan bercerita setiap hal pada ibu, sesederhana apa pun itu. Aku menggugat itu semua kesalahan dosen yang suka seenaknya mengubah jadwal. Terlebih lagi, aku memang tidak suka dengan sistem dosen yang suka seenaknya masuk selama setengah semester ini. Maka, emosi tak tertahan lagi. Karena tidak mungkin aku marah secara langsung pada sang dosen, aku melampiaskan kemarahanku lewat kata-kata 'semoga' yang diikuti dengan harapan yang sangat buruk terjadi pada sang dosen.
Awalnya, ibuku hanya diam mendengarkan tanpa protes. Aku pikir, ibuku akan membenarkan karena memang dosennya yang keterlaluan. Namun, aku terdiam ketika ibuku bilang 'Cobalah untuk berhenti menyalahkan orang lain, nak. Apakah kamu begitu mengenal sang dosen hingga kamu bisa menilainya seperti itu?'
Karena tidak mau disalahkan, aku menjawab 'Coba Ibu bayangkan, dia yang memindahkan jadwal kuliah dan ujian sesuka hatinya, bukan hanya aku, dia menganiaya banyak mahasiswa, teman-temanku juga merasakan hal yang sama'
'Coba, apa yang kamu tahu tentang urusan dan masalahnya selain menggeser jadwal sesuka hatinya'
'Mana aku tahu ibu, memang dosennya pemalas dan jarang masuk, entah apa alasannya'
'Benar, dia membuatmu sangat sakit hati karena mengacaukan semua rencanamu. Tapi, pernahkah kamu berpikir dia punya masalah yang sangat besar dibalik sifat semena-menanya seperti itu. Berhentilah untuk menyalahkannya. Bisa jadi, jika kamu tahu alasan yang sebenarnya nanti, kamu akan merasa sangat bersalah pada dirinya. Jangan salahkan orang lain atas apa yang menimpa kita. Bisa jadi itu kesalahan kita sendiri, karena kita lah yang menyebabkan diri kita untuk berhubungan dengannya. Dia tidak pernah memaksa kamu untuk mengambil kelasnya. Kamu lah yang melibatkan diri dengan sendirinya tanpa paksaan dari siapapun. Mungkin, bagi dia kamu juga penyebab masalah untuknya. Cobalah untuk menikmati segalanya, setidaknya dengan berterimakasih padanya karena dia telah memberi masalah untukmu karena dengan begitu dia membuatmu untuk belajar bijaksana'
Aku seorang mahasiswi fisika yang hampir menyelesaikan semester 7. Beberapa hari lagi, semester ini akan berakhir dengan selesainya ujian akhir semester (UAS). Seperti biasa, aku akan pulang kampung setelah menyelesaikan semua ujian. Bagiku, pulang kampung memiliki cerita tersendiri, karena aku hanya bisa pulang pada waktu liburan panjang. Setelah daftar ujian keluar, ternyata aku sangat beruntung, jadwal ujian sesuai dengan yang aku harapkan. Jadi, aku bisa pulang beberapa minggu diakhir tahun ini.
Beberapa hari kemudian, kenyataan tak seperti yang aku harapkan. Hanya karena satu jadwal ujian yang digeser, semua rencana yang kususun hancur. Aku merasa sangat kesal, dan mulailah aku menyalahkan semua pihak terkait yang menyebabkan pergeseran jadwal ujian. Seperti biasa, aku akan bercerita setiap hal pada ibu, sesederhana apa pun itu. Aku menggugat itu semua kesalahan dosen yang suka seenaknya mengubah jadwal. Terlebih lagi, aku memang tidak suka dengan sistem dosen yang suka seenaknya masuk selama setengah semester ini. Maka, emosi tak tertahan lagi. Karena tidak mungkin aku marah secara langsung pada sang dosen, aku melampiaskan kemarahanku lewat kata-kata 'semoga' yang diikuti dengan harapan yang sangat buruk terjadi pada sang dosen.
Awalnya, ibuku hanya diam mendengarkan tanpa protes. Aku pikir, ibuku akan membenarkan karena memang dosennya yang keterlaluan. Namun, aku terdiam ketika ibuku bilang 'Cobalah untuk berhenti menyalahkan orang lain, nak. Apakah kamu begitu mengenal sang dosen hingga kamu bisa menilainya seperti itu?'
Karena tidak mau disalahkan, aku menjawab 'Coba Ibu bayangkan, dia yang memindahkan jadwal kuliah dan ujian sesuka hatinya, bukan hanya aku, dia menganiaya banyak mahasiswa, teman-temanku juga merasakan hal yang sama'
'Coba, apa yang kamu tahu tentang urusan dan masalahnya selain menggeser jadwal sesuka hatinya'
'Mana aku tahu ibu, memang dosennya pemalas dan jarang masuk, entah apa alasannya'
'Benar, dia membuatmu sangat sakit hati karena mengacaukan semua rencanamu. Tapi, pernahkah kamu berpikir dia punya masalah yang sangat besar dibalik sifat semena-menanya seperti itu. Berhentilah untuk menyalahkannya. Bisa jadi, jika kamu tahu alasan yang sebenarnya nanti, kamu akan merasa sangat bersalah pada dirinya. Jangan salahkan orang lain atas apa yang menimpa kita. Bisa jadi itu kesalahan kita sendiri, karena kita lah yang menyebabkan diri kita untuk berhubungan dengannya. Dia tidak pernah memaksa kamu untuk mengambil kelasnya. Kamu lah yang melibatkan diri dengan sendirinya tanpa paksaan dari siapapun. Mungkin, bagi dia kamu juga penyebab masalah untuknya. Cobalah untuk menikmati segalanya, setidaknya dengan berterimakasih padanya karena dia telah memberi masalah untukmu karena dengan begitu dia membuatmu untuk belajar bijaksana'
Selasa, 10 Desember 2013
Menuju Akhir dan Awal Sebuah Cerita
karena saya suka lupa, maka saya putuskan akan menulis semua yang saya alami hingga kelak bisa lagi untuk kubaca dan mengingat semuanya. ini kisah yang kemarin terjadi kala saya dan teman-teman masih bersama. kemarin ga tahu ekspresinya harus gimana, tapi saya yakin beberapa tahun lagi ini akan menjadi sebuah kisah lucu yang akan kami bicarakan bersama ketika kumpul bareng, dan beginilah kronologisnya......
Saat ini sore menjelang di Selasa dengan gerimis yang menyapa, seperti biasa kami mahasiswa yang teramat mencintai kampusnya, berjam-jam duduk cuma buat cerita ngawur, derai tawa sambut menyambut menciptakan harmoni tersendiri dalam ruangan sekre kami yang serba ada, mulai dari pemasak nasi, pemanas air, gelas, gula, sendok, kopi, piring, bungkus nasi, dan anehnya meski ini ruangan mahasiswa ga ada satu buku yang berhubungan dengan perkuliahan di sini, saya pun bertanya-tanya, ini ruangan sekre mahasiswa atau rumah kos kedua. Lupakan saja tentang apa nama yang pantas untuk sekre ini, yang terpenting di sini adalah apa cerita yang terjadi dalam sekre ini. Ketika jarum jam merangkak bergerak menuju pukul enam sore, dan gerimis di luar pun mulai reda, kami memutuskan untuk pulang. Lebih tepatnya bukan pulang, tapi mencari makan dan memulai serangkaian kisah selanjutnya......
Oh ya, saya lupa bilang nama tokoh yang akan membuat cerita ini. Ada delapan tokoh di tempat yang sama, satu pemeran lagi akan hadir di klimaks cerita nantinya (alias nyusul). Sebut saja namanya kak yen, un, nam, komting, nenek, turnip, wiwit, dan saya sendiri. Mungkin nama karakter pemainnya agak aneh, begitulah, ini salah satu proyek paling kratif kami sebagai mahasiswa. Karena kelaparan, kami memutuskan untuk makan dulu sebelum pulang ke rumah masing-masing. Dan senja ini, kami putuskan pecel ayam adalah pilihannya.
Pecel ayamnya biasa, sama dengan di tempat kalian yang mungkin membaca tulisan ini, yang ga biasanya adalah cerita dari lesehan dengan meja persegi panjang ini. Pernah ga bayangin kalau sebelum makan, orang harus salaman dulu sama nasi. Mungkin ini ritual aneh yang pernah kalian dengar, tapi itu kak yen yang salaman dengan nasi sebelum makan. Belum lagi menunya yang dia pesan berbeda dengan kami kebanyakan, kami pesannya ayam semua (komting pesan pangsit sih, tapi kan tetap ada ayamnya), eh kak yen pesan pecel belut yang nunggunya benar-benar nguji kesabaran karena perut kak yen udah ga sabaran untuk makan (kali aja penjual pecelnya masih mancing belut di sawah), saking ga sabaran nunggu kak yen numpahin air di lantai, dan jadilah kak yen si 'iyem' tukang lap sebelum makan, hahaha.....
Udah biasa kan liat orang grogian kalau diledekin masalah cinta-cintaan, apalagi dua-duanya duduk dekatan, yang belum pernah lo liat pasti jantungnya loncat ke luar, terus lompat-lompat di antara kami yang makan sambil bilang 'halo, saya jantung nenek yang mencari jantung kokom, ini serbet buat yang membutuhkan'. Ini bukan khayalan, karena kami bisa membuat cerita yang begitu hidup dan nyata. Coba bayangkan ada teman kita yang makan dengan lahapnya, ketawa-ketiwi saking gembiranya, terus ketika mau bayar baru sadar kalau dompetnya ga ada. Dan itu dompet ga jelas tinggal di mana. Hasilnya, so pasti kami balik lagi ke kampus malam-malam buat nyari dompet turnip yang ketinggalan. Belum lagi sampai kampus, motor komting habis minyak pula di perjalanan, kalau ini jalan raya mah gampang, mungkin lo bisa jalan dikit dan ketemu penjual minyak eceran. Lah, ini mah di kampus, udah malam dan kami belum salat. Dompet turnip belum ditemukan, motornya nambah masalah pula dengan habis bensin.
Hampir lupa sama tokoh yang akan muncul di klimaks pencarian dompet turnip. Papi, yang kami tinggal di kampus ketika tadi pulang. Papi lah 'the hero' turnip yang wajahnya udah berlipat-lipat karena cemas dompetnya hilang. Setelah ngecek sana-sini, hasilnya nihil, dompet turnip ga ditemukan. Saat cerita ini terjadi, ga ada yang tertawa, ga ada canda, ceria tenggelam dalam wajah sedih turnip yang biasanya ceria. Tapi, saat cerita ini di baca, coba bayangin lagi serangkaian cerita yang terjadi kala itu dan kita pasti terbahak bersama, hahahaha......
Saat ini sore menjelang di Selasa dengan gerimis yang menyapa, seperti biasa kami mahasiswa yang teramat mencintai kampusnya, berjam-jam duduk cuma buat cerita ngawur, derai tawa sambut menyambut menciptakan harmoni tersendiri dalam ruangan sekre kami yang serba ada, mulai dari pemasak nasi, pemanas air, gelas, gula, sendok, kopi, piring, bungkus nasi, dan anehnya meski ini ruangan mahasiswa ga ada satu buku yang berhubungan dengan perkuliahan di sini, saya pun bertanya-tanya, ini ruangan sekre mahasiswa atau rumah kos kedua. Lupakan saja tentang apa nama yang pantas untuk sekre ini, yang terpenting di sini adalah apa cerita yang terjadi dalam sekre ini. Ketika jarum jam merangkak bergerak menuju pukul enam sore, dan gerimis di luar pun mulai reda, kami memutuskan untuk pulang. Lebih tepatnya bukan pulang, tapi mencari makan dan memulai serangkaian kisah selanjutnya......
Oh ya, saya lupa bilang nama tokoh yang akan membuat cerita ini. Ada delapan tokoh di tempat yang sama, satu pemeran lagi akan hadir di klimaks cerita nantinya (alias nyusul). Sebut saja namanya kak yen, un, nam, komting, nenek, turnip, wiwit, dan saya sendiri. Mungkin nama karakter pemainnya agak aneh, begitulah, ini salah satu proyek paling kratif kami sebagai mahasiswa. Karena kelaparan, kami memutuskan untuk makan dulu sebelum pulang ke rumah masing-masing. Dan senja ini, kami putuskan pecel ayam adalah pilihannya.
Pecel ayamnya biasa, sama dengan di tempat kalian yang mungkin membaca tulisan ini, yang ga biasanya adalah cerita dari lesehan dengan meja persegi panjang ini. Pernah ga bayangin kalau sebelum makan, orang harus salaman dulu sama nasi. Mungkin ini ritual aneh yang pernah kalian dengar, tapi itu kak yen yang salaman dengan nasi sebelum makan. Belum lagi menunya yang dia pesan berbeda dengan kami kebanyakan, kami pesannya ayam semua (komting pesan pangsit sih, tapi kan tetap ada ayamnya), eh kak yen pesan pecel belut yang nunggunya benar-benar nguji kesabaran karena perut kak yen udah ga sabaran untuk makan (kali aja penjual pecelnya masih mancing belut di sawah), saking ga sabaran nunggu kak yen numpahin air di lantai, dan jadilah kak yen si 'iyem' tukang lap sebelum makan, hahaha.....
Udah biasa kan liat orang grogian kalau diledekin masalah cinta-cintaan, apalagi dua-duanya duduk dekatan, yang belum pernah lo liat pasti jantungnya loncat ke luar, terus lompat-lompat di antara kami yang makan sambil bilang 'halo, saya jantung nenek yang mencari jantung kokom, ini serbet buat yang membutuhkan'. Ini bukan khayalan, karena kami bisa membuat cerita yang begitu hidup dan nyata. Coba bayangkan ada teman kita yang makan dengan lahapnya, ketawa-ketiwi saking gembiranya, terus ketika mau bayar baru sadar kalau dompetnya ga ada. Dan itu dompet ga jelas tinggal di mana. Hasilnya, so pasti kami balik lagi ke kampus malam-malam buat nyari dompet turnip yang ketinggalan. Belum lagi sampai kampus, motor komting habis minyak pula di perjalanan, kalau ini jalan raya mah gampang, mungkin lo bisa jalan dikit dan ketemu penjual minyak eceran. Lah, ini mah di kampus, udah malam dan kami belum salat. Dompet turnip belum ditemukan, motornya nambah masalah pula dengan habis bensin.
Hampir lupa sama tokoh yang akan muncul di klimaks pencarian dompet turnip. Papi, yang kami tinggal di kampus ketika tadi pulang. Papi lah 'the hero' turnip yang wajahnya udah berlipat-lipat karena cemas dompetnya hilang. Setelah ngecek sana-sini, hasilnya nihil, dompet turnip ga ditemukan. Saat cerita ini terjadi, ga ada yang tertawa, ga ada canda, ceria tenggelam dalam wajah sedih turnip yang biasanya ceria. Tapi, saat cerita ini di baca, coba bayangin lagi serangkaian cerita yang terjadi kala itu dan kita pasti terbahak bersama, hahahaha......
Sabtu, 07 Desember 2013
Surat Tanpa Kata
Aku tak percaya surat ini akan kau baca, karena ini hanya sepotong kertas yang aku selipkan dengan sengaja, bukan maksud apa-apa, hanya sebuah surat yang terlipat di bawah meja, yang mungkin saja akan kau temukan kapan saja. Soal isinya, tidak ada apa-apa, selembar kertas putih dengan tinta di atasnya, tanpa kata. Mungkin kau bisa memahaminya, karena hatiku memang banyak rahasia.
Tidak kah kau kan bertanya tentang kertas dengan tinta yang aku selipkan di bawah meja, tidak kah kau rasa surat itu bukanlah surat biasa seperti layaknya surat cinta muda-mudi dengan gejolak asmara. Andai sedikit saja kau bisa peka, mungkin surat itu tak perlu aku lipat di bawah meja. Sudahlah, mana mungkin kau akan mereka-reka karena aku selalu seperti biasanya.
Benar adanya surat itu aku tujukan untuk kau di sana, benar adanya surat itu tak merubah apa-apa, setidaknya sudah kusampaikan, walau sekedar sebuah surat tanpa kata-kata
Tidak kah kau kan bertanya tentang kertas dengan tinta yang aku selipkan di bawah meja, tidak kah kau rasa surat itu bukanlah surat biasa seperti layaknya surat cinta muda-mudi dengan gejolak asmara. Andai sedikit saja kau bisa peka, mungkin surat itu tak perlu aku lipat di bawah meja. Sudahlah, mana mungkin kau akan mereka-reka karena aku selalu seperti biasanya.
Benar adanya surat itu aku tujukan untuk kau di sana, benar adanya surat itu tak merubah apa-apa, setidaknya sudah kusampaikan, walau sekedar sebuah surat tanpa kata-kata
Bayangan Gelap
Aku gadis dengan payung di sebelahmu kemarin
Kala hujan rintik-rintik datang pada pagi yang kelam
Dan orang berbondong-bondong mencari tempat persinggahan
Benar saja, mana pula kau ingat
Karena aku hanya bayangan gelap
Yang menyapamu lewat tatapan harap
Dengan percakapan tanpa suara sambil menunggu hujan reda
Dalam ruang yang sama seakan dunia kita berbeda
Setidaknya aku bahagia duduk di sampingmu
Sebagai bayangan gelap yang tidak kau lihat
Aku berharap hujan bisa lebih lama
Kala hujan rintik-rintik datang pada pagi yang kelam
Dan orang berbondong-bondong mencari tempat persinggahan
Benar saja, mana pula kau ingat
Karena aku hanya bayangan gelap
Yang menyapamu lewat tatapan harap
Dengan percakapan tanpa suara sambil menunggu hujan reda
Dalam ruang yang sama seakan dunia kita berbeda
Setidaknya aku bahagia duduk di sampingmu
Sebagai bayangan gelap yang tidak kau lihat
Aku berharap hujan bisa lebih lama
Minggu, 01 Desember 2013
Kala Hujan Turun
Saat ini akhir pekan, pada bulan terakhir tahun ini, tepat hari pertamanya
Entah apa pasal, tidak seperti akhir pekan sebelumnya, mendung, hujan turun berkepanjangan
Padahal aku menunggu mentari, dari tadi pagi aku sudah mengintip berkali-kali, dari balik terali ini
Sepertinya hujan tak kunjung mengerti betapa aku merindukan mentari
Pagi, aku masih bersabar, barangkali ini hanya gerimis seperti biasanya, sekedar penghapus debu jalanan
Tapi tetes itu tak kunjung berhenti, semakin menjadi-jadi
Saat ini akhir pekan, pada bulan terakhir tahun ini, tepat hari pertamanya
Jauh-jauh hari aku bermimpi bertemu matahari, sudah kukatakan dia untuk datang hari ini
Katanya matahari tidak pernah ingkar janji
Tapi dari tadi aku menunggu matahari yang tak kunjung kemari
Bisa jadi hujan di luar membawanya pergi
Mungkin terlampau jauh dari sini
Kala hujan turun pada akhir pekan di bulan terakhir tahun ini, tepat hari pertamanya
Aku menunggu mentari
Menyibak tetes yang turun sejak tadi pagi, mungkin di baliknya ada mentari
Sekedar tersenyum menatapku kasak-kusuk sendiri di balik hujan yang turun sejak tadi pagi
Aku ingin memahami mengapa mentari tak kunjung ke sini dan hujan yang tak kunjung berhenti
Mungkin mentari tahu aku yang tidak akan mengkhianati matahari
Atau hujan yang telah mengerti aku yang tidak pernah membenci
Entah apa pasal, tidak seperti akhir pekan sebelumnya, mendung, hujan turun berkepanjangan
Padahal aku menunggu mentari, dari tadi pagi aku sudah mengintip berkali-kali, dari balik terali ini
Sepertinya hujan tak kunjung mengerti betapa aku merindukan mentari
Pagi, aku masih bersabar, barangkali ini hanya gerimis seperti biasanya, sekedar penghapus debu jalanan
Tapi tetes itu tak kunjung berhenti, semakin menjadi-jadi
Saat ini akhir pekan, pada bulan terakhir tahun ini, tepat hari pertamanya
Jauh-jauh hari aku bermimpi bertemu matahari, sudah kukatakan dia untuk datang hari ini
Katanya matahari tidak pernah ingkar janji
Tapi dari tadi aku menunggu matahari yang tak kunjung kemari
Bisa jadi hujan di luar membawanya pergi
Mungkin terlampau jauh dari sini
Kala hujan turun pada akhir pekan di bulan terakhir tahun ini, tepat hari pertamanya
Aku menunggu mentari
Menyibak tetes yang turun sejak tadi pagi, mungkin di baliknya ada mentari
Sekedar tersenyum menatapku kasak-kusuk sendiri di balik hujan yang turun sejak tadi pagi
Aku ingin memahami mengapa mentari tak kunjung ke sini dan hujan yang tak kunjung berhenti
Mungkin mentari tahu aku yang tidak akan mengkhianati matahari
Atau hujan yang telah mengerti aku yang tidak pernah membenci
Kamis, 28 November 2013
PAGI
Bagi yang menunggu, pagi tak seperti biasanya
Sejuk memeluk tulang kedinginan
Embun basahi kaca jendela dan memburam oleh desah penantian
Berharap pagi ini dia datang
Bagi yang menunggu, pagi membawanya ke pintu
Ke jendela-jendela atau celah-celah pembawa harapan
Mungkin dia akan datang untuk mengucap salam
Saat pagi ditenggelamkan siang
Bagi yang menunggu, kabut adalah cermin pembawa janji
Mungkin ia datang samar-samar
Bersama kabut yang mulai menghilang
Dibawah awan merangkak bergerak
Mentari datang pelan-pelan
Tapi ia belum juga datang
Walau pagi mulai beranjak siang
Kini semilir sejuk sudah gersang
Oleh panas dan debu yang mulai datang
Mungkin ia pun malas untuk datang
Sejuk memeluk tulang kedinginan
Embun basahi kaca jendela dan memburam oleh desah penantian
Berharap pagi ini dia datang
Bagi yang menunggu, pagi membawanya ke pintu
Ke jendela-jendela atau celah-celah pembawa harapan
Mungkin dia akan datang untuk mengucap salam
Saat pagi ditenggelamkan siang
Bagi yang menunggu, kabut adalah cermin pembawa janji
Mungkin ia datang samar-samar
Bersama kabut yang mulai menghilang
Dibawah awan merangkak bergerak
Mentari datang pelan-pelan
Tapi ia belum juga datang
Walau pagi mulai beranjak siang
Kini semilir sejuk sudah gersang
Oleh panas dan debu yang mulai datang
Mungkin ia pun malas untuk datang
Langganan:
Komentar (Atom)